“Mama, Aku Ingin Jadi Orang Kaya.”
Sebuah ucapan yang terlontar dari anak laki-laki berusia 5 tahun. Ucapan itu keluar di jam menjelang tidur, diantara percakapan antara saya dan anak saya. Sebuah kalimat yang membuat ibunya terhenyak. Karena, merupakan ucapan yang cukup ambisius untuk ukuran anak 5 tahun.
Setelah seharian beraktivitas, meskipun lelah dan ingin si bocah aktif tertidur agar si Ibu punya waktu sendiri, tapi waktu bisa berbincang dengan si kecil sebelum tidur cukup dinantikan Ibu. Karena minimal distraction, alias si ibu dan anak bisa mengobrol cukup dalam di momen ini. Tak jarang di waktu jelang tidur ini, si kecil suka menanyakan sesuatu yang mengganggu pikiran atau membuatnya penasaran.
Suatu kali dia pernah bertanya, “Allah itu siapa?” atau “Kok Allah nggak kelihatan?” atau pertanyaan-pertanyaan ‘besar’ atau penting lainnya. Seringnya juga dia mengoleh tentang bumi dan planet, salah satu topik favoritnya yang lain.
Tapi kalimat ‘ingin jadi orang kaya’ benar-benar buat si Ibu alias saya, terkejut. Soalnya keinginan macam ini potensi mengkorupsi pribadi menjadi negatif itu besar.
Juga karena saya maupun suami nggak pernah mengucap atau memberikan pesan semacamnya ke si kecil. Pertama karena memang dia masih kecil. Kedua, ….seperti yang akan saya respon ke anak saya nanti.
“Kok kamu ngomong gitu?” saya curiga ini bukan benar-benar murni dari otaknya. Biasanya ketika dia ingin hal materi, masih sebatas mau mainan atau mau barang apa. Bukan ‘jadi orang kaya’ atau hal kompleks begini.
“Iya, aku pengen beli banyak. Pengen ini, itu…”
Berulang kali saya tanya dia bisa pengen jadi orang kaya kenapa. Usut punya usut…
“..Iya kaya si kakak (teman sepermainannya). Jadi bisa beli rumah, beli mobil…” Ia menjawab dengan menggebu-gebu.
Si Ibu baru mengerti. Lega karena ini bukan pemikiran murni dari si kecil.
Konsep Kaya dan Menjadi Orang Kaya
Menjadi kaya memang terlihat menggiurkan. Ditambah jika kita melihat kemewahan yang disuguhkan di mana-mana. Dari media, tetangga dan sebagainya. Mulai dari barang branded, rumah bertingkat, jalan-jalan keluar negri.
Di sisi lain, banyak juga mereka yang sudah kaya mentereng tapi tidak merasa bahagia. Kenapa banyak selebritis luar yang sampai mengakhiri hidupnya, padahal dari segi popularitas dan kekayaan sudah lebih dari cukup?
Hey, bukannya saya menolak ketika mendapatkan rejeki. Namun konsep mimpi jadi orang kaya lantas kerja bagai quda, ya belum tentu bisa dibenarkan. Terutama jika kita sudah menjadi seorang Ibu.
Jujur, siapa yang nggak tergiur dengan kekayaan? Tapi punya semua barang yang kita mau tidak menjamin ada kedamaian batin dan kebahagiaan dalam diri.
Motivasi Menjadi Kaya
Sebenarnya ingin jadi orang kaya tidak berarti jelek. Harus ditilik lagi kenapa dan apa motivasinya? Kalau seperti yang si kecil bilang, ia ingin jadi kaya karena ingin beli banyak barang. Itu sebenarnya masih lapisan luar, alias alasan yang cenderung dangkal.
Alasan yang positif menurut saya adalah demi keluarga hidup layak, ingin membuka lapangan kerja buat yang belum punya pekerjaan, ingin bersedekah atau ingin naik haji atau memberangkatkan orangtua naik haji misalnya. Jadi, ada dorongan untuk membahagiakan orang lain. Selfless reason.
Saya lantas teringat ada rekan kerja dulu yang menulis status, “Alhamdulillah. Niat berdagang untuk bantu orangtua. Orderan ada terus.” Ada juga sih cerita lain yang serupa.
Dengan alasan-alasan yang tidak duniawi, maka ketika berhasil mendapatkan materialnya maka akan lebih long lasting bahagianya. Namun kalau alasannya duniawi; mengejar uang banyak, kepopuleran atau posisi bergengsi, yah ketika mendapatkannya besar kemungkinan tergoda kenikmatan duniawi lain.
Many people end their lives because they feel empty or dying inside. Lalu nggak tahu harus mengadu kemana. Nggak jarang diantara mereka padahal terlihat punya segalanya.
Let’s just face it. Kita hidup di dunia yang serba matrealistis. Mengukur segala sesuatu dari materi. Ada geng di sekolah atau kantor yang hanya mengakui kita kalau kita bisa beli barang mahal. Lalu iklan-iklan menjejali kita minta dibeli. Di papan billboard, iklan di TV, bahkan dinding-dinding kereta api. Tapi kan nggak semua ‘tuntutan’ itu harus juga kita ladeni.
Mungkin ada yang susah menolak tuntutan-tuntutan ini, demi mendapatkan validasi atau image tertentu. Bagaimana cara mengacuhkan tuntutan duniawi?
‘Obat’ Penggugur Cinta Dunia
Kalau sedang capek hati dengan rutinitas, terkadang saya suka ingat tulisan di majalah perempuan waktu saya SMA. Itu majalah Ibu, namun saya suka buka-buka dan baca iseng. Salah satu tulisannya adalah tentang rasa kesepian di perkotaan.
Menurut tulisan yang terbit di tahun 90an ini, hidup di perkotaan rentan merasa kesepian. Untuk itu, salah satu tips mengatasinya adalah dengan berdoa. Dalam berdoa pun harus spesifik, doa seperti, “Semoga saya menjalani hidup yang bahagia.” Ternyata dengan mengucap doa ini berdampak positif ke otak, membuat perasaan jauh lebih baik.
Ketika saya sudah jadi Ibu, letih suka mampir. Bukan cuma letih badan, tapi letih hati. Capek mengejar-ngejar target. Mungkin bukan melulu pekerjaan, tapi kesibukan duniawi.

Satu hal yang sering saya ingat ketika merasa letih hati adalah suasana hati sudah diatur oleh-Nya. Sehingga ketika kita letih hati atau galau, sebenarnya Yang Maha Kuasa sedang ‘menarik’ kita kepada-Nya. Dia sedang menunggu kita mengadu pada-Nya. And I usually did. Minta ampun, minta segala sesuatu dilancarkan. Alhamdulillah, kegalauan itu hilang. Kegalauan hati ini sebenarnya cuma trial mini dari-Nya.
Untuk lebih ringkas, saya beri sedikit tips agar nggak silau sama dunia (semoga membantu):
- Berhenti mengejar validasi atau penilaian orang lain. Orang lain ini bisa siapa saja, orang yang menurut kita in charge, dominan, menuntut atau berkuasa. Mungkin tak apa kalau orang ini punya orientasi mengejar ridho-Nya, namun namanya juga manusia. Suatu ketika bisa saja ‘tergelincir’ juga.
- Mengejar atau melakukan sesuatu dengan mencari ridho-Nya. Bagi Allah, nggak perlu materi atau apapun untuk menghadap atau bersama-Nya. Cuma butuh ketulusan dan kesungguhan hati, melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.
- Ketika takut akan rejeki seret, ingat bahwa Allah berjanji mencukupi orang-orang yang beriman. Yang perlu kita lakukan adalah percaya akan janji-Nya dan berserah diri (ini yang jadi masalah kebanyakan orang). Kalau masih juga khawatir, lakukan shalat malam atau shalat Tahajud. Minimal batin insya Allah tenang jika dilakukan khusyuk. Saya pernah juga mengalami hal ini dalam cerita tentang hashtag Instagram.
- Cari circle yang sehat dan positif. Carilah lingkup pertemanan yang menerimamu apa adanya, lebih bagus lagi yang mendekatkan dirimu pada-Nya. Mereka akan selalu mengingatkanmu dan mengembalikan-Mu ke jalur yang baik, insya Allah.
- Ketika sedih, galau dan kecewa, curhat kepada-Nya. Ketika sujud dan shalat, minta petunjuk dan curhat. Sambil nangis nggak apa-apa. Habis itu biasanya plong.
- Ketika kamu melakukan sesuatu mencari ridho-Nya, maka kamu akan belajar bahwa mengkonsumsi sesuatu menurut kadarnya saja. Dari beli baju, makanan, dan segala hal dalam keseharian. Ini untuk mengurangi pemborosan dan juga agar barang yang dihisab sedikit di akhirat nanti.
Menjawab Celotehan Si Kecil
Kembali ke celotehan si kecil tadi. Sebenarnya pernah juga si kecil bilang dia mau jadi orang kaya sebelum malam itu. Tapi dia berkata juga mau beliin mama ‘krim’, alias body cream yang suka saya pakai. Menurut saya, hal ini manis sekali. Karena berarti dia mau membahagiakan saya insya Allah. Tapi malam itu berbeda, karena keinginannya terlihat meluap-luap.
Akhirnya, saya menanyakan sesuatu yang jadi alasan kedua kenapa nggak pernah menyuruh anak supaya jadi orang kaya, “Memangnya kalau kamu sudah beli semua barang, mau ngapain?”
“Mau beliin mama…” Dia jawab sambil sedikit bingung.
“Beliin mama apa?”
“Beli semua, beli banyak….”
“Iya, semua barang udah dibeli. Lalu mau ngapain?”
Si kecil terdiam dan kelihatan bingung.
Belakangan ketika saya membagikan cerita ini ke paksu, paksu bilang bahwa respon bingung si kecil itu seperti respon kebanyakan orang. Mengejar material, ketika semua sudah didapat lalu kebingungan.
Saya melanjutkan bertanya padanya, “Memangnya kalau jadi orang kaya lantas bahagia? (Bahagianya) paling sebentar saja.”
“Sebentar aja gimana, ma?”
“Ya kayak kamu habis dibelikan mainan. Senangnya sebentar saja.”
Ayat dan Hadist Tentang Penyakit Cinta Dunia
Untuk melengkapi tulisan ini, ini ada beberapa ayat tentang penyakit cinta dunia. Sekaligus tertera bagaimana jadi orang kaya dalam Islam, yang berlomba mengejar materi.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut: 64).
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Surat Al-Hadid ayat ke-20
Tentang kecintaan pada dunia, Allah bersabda di Al
Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang menjadikan dunia sebagai ujung akhir ambisinya, Allah akan pisahkan ia dengan yang diinginkannya (dunia), lalu Allah akan menjadikan kefakiran membayang di pelupuk kedua matanya. Padahal Allah sudah pasti akan memberikan dunia kepada setiap manusia sesuai dengan yang telah Ia tetapkan. Tapi siapa yang menjadikan akhirat sebagai ujung akhir ambisinya, maka Allah akan mengumpulkan dan mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Lebih dari itu, Allah akan membuat hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya’. (HR Ibnu Majah dari Usman bin Affan).
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW mengungkapkan, ‘‘Siapa yang menjadikan ambisinya semata-mata untuk meraih akhirat, Allah akan mencukupi kebutuhan dunianya. Tapi siapa yang ambisi meraih dunianya bermacam-macam, Allah tidak akan pernah peduli dengan yang ia inginkan. Ia justru akan menemui kehancurannya sendiri.” (HR Ibnu Majah dari Abdullah bin Mas’ud).
Sementara itu, Allah SWT berfirman dalam sebuah hadis qudsi, ”Wahai anak cucu Adam, kalian mencurahkan segala ibadah hanya karena ingin ridla-Ku, pasti akan Aku penuhi hatimu dengan kekayaan. Aku juga akan tutup kefakiranmu. Jika tidak demikian, Aku akan penuhi hatimu dengan segala kesibukan. Aku juga tidak akan menutupi kafakiranmu.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
Kesimpulan
Konsep menjadi orang kaya memang sesuatu yang wajar di masa ini. Namun patut diketahui bahwa kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan, sebagaimana mungkin sudah banyak yang mengetahui ini namun tetap bekerja keras berlebihan. Penting sebagai orangtua agar menanamkan mindset pada anak agar tidak menjadi material minded. Semoga tulisan ini menjadi self-reminder untuk saya, anak dan insya Allah buat semua yang membaca.

Referensi:
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qal8bx320
Dulu ada lagu: andai aaaaaku jadi orang kaya, lupa siapa yang nyanyi. Dan masa SMA aku pernah bilang ke mamaku aku mau jadi orang kaya, hahaha. Tapi waktu itu aku bayangkan kaya dalam arti berhasil dan bukan materialistis.
Sekarang, kalau ingat-ingat lagi masa itu, aku berpikir, minimal jadi rajin belajar biar ga jatuh miskin, hehehe…
Tapi kalau liat anak pengen kaya untuk beliin orang tua (dan bukan buat diri sendiri saja), masih positif lah, tinggal perlu diarahkan biar jangan jadi silau dunia.
Ah setujuuuu sekali :). Aku lebih milih untuk menetapkan secara jelas apa yg sebenernya aku mau, dan coba utk mencapai itu. Jadi ga hanya ‘mau jadi orang kaya’. Kaya itu relatif kok. Mau sekaya apa.. kekayaan pengusaha biasa Ama kekayaan Mark Zuckerberg aja levelnya beda :D. Kalo cuma mau kaya, yg ada bingung sendiri juga, apa sebenernya yg mau dicapai. Ujung2nya ga puas2.
Mendingan pilih, target khususnya. Jelas, terarah, dan ketika achieved, ada perasaan puas juga.
Tapi kalo anakku nanti ada ngomong begini, aku bisa belajar dari tulisan mba, gimana cara mengarahkan mereka :D. Ga mau juga anak2 LBH terlena Ama duniawi.