Hal-Hal Yang Membuat Semangat Jadi Mom Freelancer – Menjadi freelancer atau pekerja lepas adalah sebuah pilihan. Buat saya, itu salah satu opsi ketika memutuskan resign kerja kantor hampir 9 tahun lalu. Ya, karena saya sudah mencoba kerja kantoran dan ingin memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel. Cukup lama saya ngantor sehingga saya hingga kini tidak ‘menengok ke belakang’ lagi. Saya percaya sekarang memang waktunya saya lebih baik kerja lepas dari rumah.
Transisi dari pegawai kantoran terus jadi pekerja lepas memang sempat terasa mengerikan. Tapi kalau kita mau bekerja keras dan konsisten, insya Allah paid off. Mungkin lain kali saya bahas soal transisi ini ya.
Tentunya kerjaan freelancer memiliki ups and downs. Ada kelebihannya dan kekurangannya. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya semangat jadi Mom freelancer. Ini diantaranya:
Karena sudah merasakan sekali bahwa waktu kerja di kantor itu fix dan malah kadang berlebih, membuat saya paling bersyukur bahwa kerja lepas itu tidak dituntut kaku jam kerjanya. Freelance job seringnya dikerjakan ketika ‘keadaan kondusif’.
Sebagai mom freelancer, saya harus pastikan keluarga terpenuhi kebutuhan perut dan kenyamanannya. Atau paling ngga menuju ke sana, sebelum saya bisa penuh konsentrasi kerja lepas. Rutinitas seperti ini harus dilakukan karena kalau tidak akan ‘terpotong-potong’ waktu kerjanya karena banyak ‘iklan’ dan rekues.
Hal yang membuat saya ilfil jadi kerja kantoran (di Jakarta) adalah saya hampir bisa ketemu macet per dua atau tiga hari (banyak orang bahkan setiap jalan pulang dan pergi). Kemacetan dan belum lagi ketidakdisiplinan mobil-mobil suka buat saya ‘berlatih kesabaran’. Belum lagi kena panas dan polusi. Mungkin juga jalur yang saya lewati itu berubah drastis, dari busway-an lalu jadi angkot-an yang supirnya punya ‘karakter sendiri’.
Karena ketika kena macet, itu memakan waktu dan energi. Memang kita bisa coba tetap produktif ketika menunggu kemacetan berlalu di jalan, namun tentunya tidak bisa fully istirahat. Tidak bisa diganti dengan rebahan di kasur atau waktu berkualitas dengan keluarga.
Semenjak kerja lepas dari rumah saya tidak perlu menghadapi kemacetan dan kesulitan-kesulitan lain di jalan. Cukup duduk di depan komputer dan bekerja (sembari mengurus rumah dan keluarga). Minim waktu terbuang dan insya Allah lebih efisien.
Karena kerjaan lepas sifatnya per project dan ada saatnya orderan meninggi juga menurun. Ketika meninggi, tantangannya dari waktu dan energi. Tapi ketika waktunya bayaran, rasanya menyenangkan sekali karena bisa lebih dari sekali dalam sebulan. This is one of the great thing I feel as a freelancer. Tak perlu berharap pada satu ‘keran’ rezeki.
Kalau ingin rutin seperti ini, harus rela waktunya lebih banyak terpakai dan artinya deadline lebih dari satu. Semua ada konsekuensi dan hasilnya.
Hampir setiap waktu dan hari, saya mengutamakan waktu terkoneksi dengan si kecil sebelum fokus kepada kerjaan. Saya coba memberikan anak haknya dulu karena kalau tidak saya merasa ‘egois’ dan belum memberikan yang terbaik untuk si kecil.
Karena sayapun menerapkan homeschooling, sehingga waktu fleksibel sebagai pekerja lepas memudahkan saya untuk memberikan waktu belajar kapan saja dalam sehari.
Namun saya tetap harus ‘bayar’ waktu kerja saya ketika semua pekerjaan utama di rumah selesai. Kepercayaan klien itu penting dan kalau sudah dipercaya rasanya dapat amanah. Pekerjaan selesai baru tenang.
Nah karena kerja sendiri di rumah, kecuali bosnya suami sendiri, ngga perlu harus jaga image atau pura-pura sibuk takut dicap magabut. Selama ini pekerjaan saya tidak mengharuskan absensi atau tatap muka melalui kamera langsung. Jadi kalau ngga mood atau belum bisa kerja, bisa santai dulu atau mengerjakan yang lain dulu. Yang penting kerjaan terselesaikan dengan baik sebelum deadline.
Kecuali dengan klien, bekerja mandiri berarti bekerja dengan ‘payung’ sendiri tanpa terikat kontrak atau persetujuan apapun dengan kantor seperti pegawai kantoran. You are free memutuskan segala sesuatu dengan pertimbangan pribadi.
Ketika ingin liburan, suntuk atau sedang butuh refreshing tidak harus menunggu waktu weekend atau urus cuti. Kita bisa sesuaikan dengan jadwal dan deadline, juga jadwal dengan suami dan anak. Tinggal jalan deh, tentunya setelah mengalokasikan pengeluaran.
Karena saya sendiri dan keluarga menghindari crowd yang membuat tempat kunjungan jadi kepenuhan (sehingga hilang rasa seru dan refreshing-nya), poin ini sangat penting. Liburan ‘massal’ ketika hari besar seperti hari libur nasional itu agak malas dilakukan karena khawatir ‘tua di jalan’ dan berdesakan dengan banyak orang lain yang mau refreshing.
Menjadi mom freelancer kadang-kadang memang terdengar tak mudah. tapi profesi ini ada sisi positifnya. Menuliskan hal ini mengingatkan saya akan kemudahan yang saya dapat sebagai ibu freelancer, di balik segala tantangannya. Bagaimana menurut kalian? Adakah yang juga bekerja sebagai freelancer?
Pengalaman Resign dan Jadi Freelancer, Transisi yang Tak Mudah - Ngga kerasa sudah 11 tahun…
Photo of the Day : Si Kecil yang Sibuk Memotret Alam - Sudah agak lama…
Bicara Habit Membuat To-Do List Harian - Kalau kamu seorang Ibu, mungkin sudah familiar dengan…
Photo of The Day : Di Balik Layar Badge MGN Tahunan 2024 Photo of The…
Nulis Apa Tahun 2025? Usai membuat e-book 2024 dan blogging, saya jadi menarik kesimpulan bahwa…
Pengalaman Unik dan Berkesan Saat Jepret Foto - Tadinya saya menulis ini demi memenuhi tantangan…
This website uses cookies.
View Comments
Semoga cita-cita saya untuk menjadi fulltime blogger seperti KK bisa tercapai pada tahun ini. AMIN
Ya waktu yang bisa fleksibel ya
Aku pun udah ga tertarik kerja kantoran mba . Sejak resign 2020, aku justru ngerasa lebih happy, ngerjain sampingan juga ga beban. Mungkin ga sebanyak gaji yg aku dpt dulu plus benefit, tapi dari segi ketenangan hati dan pikiran, jauuuuh lebih berasa. Dan itu penting. Kalo dipikir, gaji gede tapi tiap hari stress, sama aja boong, malah ngundang oenyakit
Halo mbak,,, aku juga termasuk fulltime frelancer loh setelah 6 tahun bekerja dan memutuskan resign
Sekalipun belum punya anak, tapi beberapa hal di atas juga aku rasakan sih, lebih selow, dan bisa atur sendiri waktunya mau kerja, sekalipun kadang saat mau kerja ada aja dramanya, entah ada tamu atau acara,. tidak bisa dipungkiri juga soal gajian bisa beberapa kali dalam sebulan, ya walaupun kadang nunggunya lama, tapi sesuai dengan yang didapat.
Saya udah pikirkan masak masak sebelum memutuskan jadi freelancer dan nggak menyesal dengan keputusan saya.. sisi positifnya banyak … tapi tantangan terbesarnya adalah gimana dapet penghasilan lancar dari freelancer
kalo saya, jujur aja gak bisa jadi full time mom di rumah meski tetap bisa menghasilkan. saya udah pernah coba tinggal di rumah selama 3 bulan (saat cuti melahirkan) dan tahu apa yang terjadi? saya stress dong. saya bawaannya jadi sedih terus. setelah cuti berakhir dan masuk kantor lagi, saya kembali menjadi pribadi yang ceria. bagi banyak orang, kerja di luar rumah bukan hanya untuk cari uang semata, ada juga yang memutuskan kerja di luar demi ketenangan dan kebahagiaan serta aktualisasi diri, seperti yang saya rasakan
sebenarnya walau kerjanya dari rumah, seorang freelancer juga harus punya jadwal yang rutin ya mbak untuk mengerjakan pekerjaannya. jadi ingat salah satu guru menulis saya dia kalau di rumah pakai baju kerja dan benar-benar bekerja di jam kerja sehari-harinya meski di rumah